Jari jemari sedang menari ditubuh dengan kasar, menjamah bagian-bagian yang gatal, didukung oleh suasana yang tenang dan posisi tidur, disaat anas menikmati gatal dan garukan, serta suasana yang tenang itu, tiba-tiba kang alit membuka pintu kamar anas, anas pun terkaget karena sedang garuk-garuk selangkangan, tanpa direncana, anas menyapa kang alit, agar paniknya hilang.
"Ehhh kang, ada apa?"
"Kediiik bae!" bukannya kang alit menjawab pertanyaan anas, malah dia mengejek anas. Sangat sepele anas menanggapi ejekan kang alit, hanya dengan senyum kecil, ejekan semacam itu tidak ada apa-apanya bagi anas. Lalu kang alit melanjutkan perkataannya.
"Kamu nanti gak ada acarakan?"
"Gak ada kang" jawab anas dengan tegas. Anas mencium bau-bau akan diajak jalan-jalan oleh kang alit.
"Nanti abis ashar ikut aku ya!"
"Kemana kang?"
"Udah tinggal ikut aja, pokoknya nanti pasti perbaikan gizi deh, kita main ke rumah harim nas" kang alit menjelaskan kepada anas, mendengar penjelasan kang alit, anas merasa tak rugi menjawab bahwa dia gak ada acara nanti. Dengan semangat anas mengiyakan ajakan kang alit.
"Okeeeh kang, siap"
"Ya udah nanti ba'da ashar, jangan pergi kemana-mana loh"
"Iya kang, tenang"
Setelah kang alit mendapatkan kesanggupan anas, dia keluar dari kamar anas, entah pergi kemana.
Pukul 14:25 adalah waktu saat kang alit mengajak anas pergi, sekarang sudah pukul 15:39, saat ini anas bangkit dari karpetnya, maklum di pesantren gak ada kasur atau springbad adanya cuma karpet. Lalu, anas pergi ke kamar mandi hanya menggunakan sarung, tanpa memakai baju dan juga celana dalam, tangan kanan membawa ember kecil bekas ember cat yang berisi peralatan mandi, jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya mengapit rokok, handuknya disampirkan dipundak kiri, rokoknya sesekali dihisap sambil berjalan menuju kamar mandi. Sampailah anas di kamar mandi pesantren yang di situ sudah ada kang mamad dan kang bejo.
"Nas!, rekane ko adus, biasane be aduse seminggu sepisan koh" kang bejo meledek anas.
"Mau ngengsreng kang, ketemu harim" dengan bangga anas menjawab kang bejo.
"Cair ya"
"Iya dong"
Selesai berbincang dengan kang bejo, anas menaruh handuk dan tempat sabun di tembok, lalu dia masuk ke WC, beberapa menit di WC kang mamad memanggil anas.
"Nas, nas"
"Dalem kang" dengan ikhlas anas menjawab panggilan kang mamad.
"Itu di atas lo ada apa?" mendengar ucapan kang mamad anas secara reflek melihat ke atas, tiba-tiba dari lubang ventilasi keluar sebuah benda yang menggumpal dan terbang mengarah ke muka anas, Pleeek suara yang keluar dari pertemuan antara kulit muka anas dan benda tersebut, dengan muka kaget, tangan anas sigap membuang benda tersebut dari mukanya, setelah terdengar suara pleeek, dari luar kang mamad dan kang bejo tertawa lepas, keras tanpa beban. Setelah benda tersebut jatuh ke lantai anas mengambilnya dengan jijik, diiringi dengan misuhan-misuhan kasarnya.
"Bangsat, kurang ajar"
"Ya allah ngomongnya kasar banget nas, saru, gak boleh tahu" kang bejo lagi-lagi mengejek anas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Mau istighfar tapi di dalem WC kang, takut dosanya lebih besar" kang bejo dan kang mamad mendengar ucapan anas malah tertawa semakin kenceng. Benda yang berciuman dengan anas ternyata adalah celana dalam, celana dalam yang dipakai oleh siapapun kalau mau mandi, di pesantren anas, bak airnya cuma ada dua itu pun gabung jadi satu, dan gak ada pembatasnya, mau yang mandi anak tujuh pun, mandinya bareng, masing-masing anak hanya memakai celana dalam. Kang mamad dan kang bejo masih terbahak-bahak tertawa, mendengar tawa mereka anas juga ingin ikut tertawa dong, anas membuka pintu WC terus dia teriak.
"Astahgfirullahal'adim" mendengar istihgfar anas, kang mamad dan kang bejo menoleh ke anas, menoleh mereka berdualah yang ditunggu-tunggu anas, saat kang mamad dan kang bejo menoleh, celana dalam yang tadi ciuman dengan anas dilemparnya ke arah mereka berdua. Namun celana dalam yang dilempar anas hanya mengenai kang mamad, kang bejo berhasil menghindar dengan gesit, Impian anas untuk ikut merasakan tawaan kejih pun tercapai, anas langsung tertawa seriang-riangnya melihat kejadian tersebut kang bejo juga ikut tertawa, malah tawanya semakin menjadi-jadi, sampai kang bejo jongkok sambil memegangi perutnya.
"Ih mad tu celana dalamnya pasti udah dikasih tai sama anas" kang bejo menakut-nakuti kang mamad.
"Bangkrek, serius apa nas" dengan muka takut kang mamad memastikan. Tapi anas gak bisa jawab, karena tertawa. Anas pun kembali masuk ke WC untuk cewok walau dia masih tertawa. Tadi tuh anas belum cewok. Selesai cewok anas keluar untuk mandi, melihat anas keluar dari WC, kang bejo tanya ke anas.
"Nas lo tadi ngapain koh baca istihgfar segala, kalo cuma mau lempar sempak doang"
"Tadi di WC kan gak boleh baca istighfar, ya aku keluar biar bisa baca istighfar, sempaknya mah anu gak sengaja kelempar" pertanyaan kang bejo dijawab dengan santai oleh anas, entah itu cuma becanda atau serius, hanya anas dan Allah yang tahu.
"Hahaha" kang bejo tertawa mendengar jawaban anas, lalu dia melanjutkan omongannya "masa gak sengaja, sempak yang gak sengaja kelempar gak mungkin mengarah pas ke aku juga madun, untung aja aku bisa ngindar"
Mereka bertiga tertawa bersama melihat kelucuan dan kejailan mereka sendiri.
"Oh iya aku mau mandi malah jadi bercanda gini, awas-awas gantian" anas tersadar dia harusnya buruan mandi, dia kan harus pergi dengan kang alit. Selesai mandi anas langsung menuju kamar, di kamar tinggal pakai baju dan sarung, tapi, ada masalah sedikit, pakaian anas kotor semua, maka pakaian kotor yang tercantel di pintu dan dinding, dia periksa satu-satu, kira-kira yang masih layak dipakai yang mana, dia mengecek bagian kerah dan lengan, sudah terlalu kotor oleh daki apa belum, hidungnya juga bekerja, menciumi pakaian kotornya, kira-kira yang baunya gak bau asem banget yang mana. Melalui pengecekannya, anas menyimpulkan tidak ada yang layak sama sekali untuk dia pakai, anas pun terpaksa mengeluarkan kedigdayaannya, kedikdayaan yang sering digunakannya, anas sekarang sudah mulai mengeluarkannya, dia menuju kamar prian, kebetulan prian lagi di kamar.
"Pri, lo ada baju bersih? pasti ada kan, lo kan rajin nyuci baju" itulah jurus kedigdayaan anas, pinjem baju.
"Ada tuh di lemari, lah emang lo, nyucinya sebulan sekali"
"Hehe gue pinjem dong" sambil tertawa anas meminta izin ke prian.
"Iya itu tinggal pilih aja"
"Lo mah emang baik banget pri"
"Preeet lah"
Anas memilih baju prian yang ingin dia pinjam, milih dong udah kaya di mall aja.
"Yang ini ya pri" anas sambil menunjukan baju hem yang dia pinjam. Prian hanya membalas dengan anggukan.
anas kalo masalah nyuci baju itu paling males, nyucinya kalo udah abis semua pakaiannya. Anas kembali lagi ke kamarnya, merapikan diri menggunakan apa yang sepantasnya dia pakai, dirasa udah cukup dan kewes, anas menunaikan sholat asyar dulu yang sudah dari dia baligh sampai sekarang menjadi kewajiban. Selesai sholat anas duduk santai di depan pesantren sambil merokok, pertama memang dia ingin bersantai, yang kedua sambil menunggu kang alit. Udara segar dihirup anas bercampur asap rokok, dan juga hiruk pikuk pesantren yang ramai dengan suara anak-anak, ada yang sedang bercanda ada yang lagi baca al qur'an, ada juga yang lagi menambal kitab, yang sedang hafalan juga ada, kebetulan kalo sore jadwalnya ngaji pesolatan, jadi anak-anak menghafalkan bacaan-bacaan yang dipesolatan. Sedang nikmat-nikmatnya menikmati itu semua, sidul datang ikut duduk dengan anas.
"Nas lo kemarin ngaji tofek berangkat kan?" sidul membuka pembicaraan dengan anas.
"Iya, berangkat" anas menjawab dengan serius.
"Banyak gak ngajinya?" pertanyaan dilontarkan sidul lagi ke anas.
"Lumayan, satu halamanan lah" anas menjawab seingatnya.
"Aku pinjem kitabnya ya, buat nambal, sekalian bacain juga ya?" dengan muka serius juga, sidul meminta tolong ke anas, apa yang dikatakan sidul belum ditanggapi anas, tapi anas keburu dipanggil kang alit yang sedang berdiri di depan gedung sebelah.
"Nas, yuh berangkat!"
"Ayuh kang" anas menjawab dengan cepat sambil mengangkat badannya agar berdiri. Sidul yang masih duduk bingung dan penasaran, ahirnya dia cepat-cepat tanya ke anas.
"Lo mau kemana nas?"
"Gak tahu, cuma ngikutin kang alit"
"Eh itu kitabnya aku pinjem ya" sidul membereskan urusannya.
"Iya ambil aja di lemari" sambil jalan menuju kang alit, anas menanggapi sidul.
"Okeh" balas sidul.
Walau anas sudah bersama kang alit, Sidul masih di tempat semula. Kang alit dan anas sudah di atas hondanya kang alit, cara orang dulu motor itu honda, entah apapun mereknya semua ya honda, kebetulan milik kang alit memang benar-benar honda, honda CS1. Kang alit mulai menyalakan motornya, motor kang alit mulai membawa mereka.

Comments
Post a Comment