Tak banyak kata yang terucap Dari awal hingga kau lenyap Siang dan malam ku bungkam Mungkin hingga rasamu padam Memang tawa masih menemani Sementara, hati nurani berkelahi Awalnya kabar burung kepergian itu Semakin malam kabar manusia Seolah takdir tuhan katanya Apakah bisa sirna kenangan itu Walau bumi masih berotasi Matahari masih bersinar Rindu yang dibuat agar meledak belum terbayarkan Malah berahir kepasrahan Setelah berlalu tak bisa menghilangkan bau Setelah bertempat tak bisa hilang tanpa jejak Setelah berbaur tak bisa melepaskan pelukan Setelah berdoa tak bisa tertarik kembali Pergilah yang jauh Seribu kali selamat tinggal terucap Tapi malah tertinggal menancap Tertumpuk dengan selamat lainnya Aku kau harus bahagia Jangan ada celaan diantara kita
"Assalamu'alaikum, Ma berangkat dulu!" Aku pamit ke orang rumah, berangkat ke sekolah , entah kenapa aku kaya harus lari . Waktu itu masih jam 6 pagi, memang terlalu pagi, sih, untuk berangkat sekolah. Apalagi jarak antara rumahku dan sekolah kurang lebih cuma 1 KM, masuknya juga jam 07.30. Enggak tahu kenapa kalau berangkat lebih dari jam 6 rasanya udah telat. Mungkin ini ya, yang mendorong aku lari. Baru aja di pertengahan jalan aku malah jatuh, GABRUUG! Aku jatuhnya tengkurep. Tanganku dibuat tumpuan oleh badanku. Sebagai lelaki tangguh aku langsung berdiri sambil membersihkan pakaianku yang kotor. "Ah, aman enggak papa," pikirku dalam hati. Kakiku mulai melangkah lagi, tapi kayanya ada yang aneh. Lal u b eberapa meter berjalan aku bertemu lilikku (adik dari orang tuaku). “Loh, kamu kenapa daf? Kok bajunya kotor?” tanya lilik “Gak kenapa napa, cuma sedikit jatuh tadi " jawabku sambil melihat ke bajuku yang seharusnya udah bersih, tap...