Wabah virus korona di Indonesia bahkan di dunia sudah sangat menghawatirkan, hingga mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan, terutama kemanusiaan, bahkan bersetubuhpun ada negara atau daerah di indonesia yang di larang. Membicarakan kemanusiaan terutama di Indonesia dari zaman dahulu sudah menjadi hal biasa, semua kalangan pasti membicarakan hal tersebut, dari ibu-ibu yang sedang membeli sayuran, bapak-bapak yang nongkrong di warkop, para petani yang ngopi-ngopi setelah musim panen, para pengangguran yang sedang berkumpul main gaple, kaula muda yang kopdar sambil ngeflai. Apalagi saat ini kemanusiaan sangat diuji, kalu saya melihat budaya indonesia itu budayanya sangatlah baik, sangat sopan, mengedepankan rasa tak enak diri, sebagai contoh apabila tetangga atau orang yang kita kenal melakukan sesuatu atau hal yang tak biasa pasti kita akan menyambanginya, dari kita ada yang sakit pasti kita menjenguk, dari kita ada yang baru bnagun rumah pasti kita menyambangi. Tapi apa yang akan terjadi jika kita di kagetkan oleh wabah yang menakutkan apakah kemanusiaan kita akan terkontrol dan sesuai porsi?
Pertama saya mendengar adanya virus korona di Wuhan, China, saya merasa virus tersebut sangat mungkin sebuah konspirasi, lama kelamaan virus tersebut menyebar sangt cepat ke berbagai negara hingga sampai ke Indonesia, setelah menjangkit Indonesia asumsi sayapun masih belum berubah bahwa itu hanyalah sebuah konspirasi, karena sangat banyak alasan untuk kesimpulan tersebut. Sampai pada ahirnya saya mempelajari berita-berita yang beredar tentang virus tersebut hingga merubah asumsi saya, saya sudah tidak lagi mempermasalahkan tentang konspirasi tersebut, kalaupun ada, itu bukan lah tugas saya dan sayapun tak mungkin bisa ambil peran, biarkan itu menjadi urusan pemerintah. Saya hanyalah masyarakat biasa, yang bisa saya lakukan adalah menempatkan serta mencari formula kemanusiaan saya dengan tepat, sebab virus korona juga menyerang nilai kemanusiaan saya mungkin kita semua juga, kalupun tidak saya tak tahu. Berjalannya waktu wabah tersebut menyerang sangat terlihat dan nyata keresahan saya tentang kemanusiaan, okeh mungkin akan saya ceritakan nanti. Dan inilah cerita singkat saya selama ini dari awal saya mendengar adanya virus korona sampai saya menulis ini.
Haaaaah. Terasa sesak nafas ini walau saya sehat, melihat kejadian-kejadian yang terjadi yang ditimbulkan oleh wabah tersebut membuat saya sesak nafas, eh tapi bukan karena saya terjangkit virus loh. Yang membuat saya sesak nafas ya itu tu yang sudah saya ceritakan di atas yang sekarang menjadi keresahan saya disamping keresahan penularan virus. Saya berfikir apakah memang benar seharusnya seperti itu. Ngeri coy sekarang apa yang dilakukan kita sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang kita pelajari dari dulu. Masa saya melihat berbagai video bersebaran yang menunjukan ada orang yang pingsan mendadak tapi di biarkan saja, malah cuma di liatin di videoin di foto bukanya ditolong. Woy kalau alasannya takut orang tersebut terkena virus korona dan apabila kita menolong akan menularkan ke kita, emangnya kita itu hewan ya yang ngga bisa berfikir, kan nanti kalau kita sudah menolong orang tersebut kita bisa menseterilkan diri kita dirumah sakit, bahkan kita bisa mengecek apakah kita terkena virus atau tidak, woy woy woy geregetan banget sumpah, kalo takut ya jangan malah ditonton cepat lapor ke petugas kesehatan terdekat dan menjauhkan diri sejauh-jauhnya kalo memang sudah hilang rasa iba kita untuk menolong. Woy woy manusia ingat kita itu manusia yang berakal.
Didaerah saya kabupaten di wilayah Jawa Tengah ada seorang perantauan yang pulang dan kabarnya dia terinfeksi virus korona, karena diduga positif terinfeksi maka pihak keluarga tidak menerima dan mengusirnya dia tidak boleh tinggal di rumahnya, cerita ini saya dapat dari teman saya mengenai kebenaran berita ini saya tidak tahu sayapun belum mencari tahu, kalaupun cerita ini tak benar menurut saya tak apa, besar kemungkina cerita ini akan terjadi juga. Maka dari itu saya seperti yang sudah saya tulis di atas tentang formula yang tepat untuk kemanusiaan saya, saya rasa sangat menyedihkan apabila kejadian tersebut benar-benar terjadi, sangat besar resikonya dan sangat menghianati kemanusiaan. Resiko yang paling logis adalah penyebaranya, pengusiran tersebut membuat orang tersebut lantang luntung berkeliaran bukanya lebih baik malah memperburuk, coba kalo memang benar terinfeksi pasti akan menularkan kebanyak orang dengan berkeliaranya dia. Tentang kemanusiaan sudah sangat menyedihkan tindakan tersebut, kalo memang keluarga takut akan tertular olehnya seharusnya diarahkan sesuai prosedur kepihak yang berwenang bukanya malah diusir. Janganlah ketakuatan menutupi pikiran kita.
Perantau salah satu orang yang sangat merasakan dampak adanya virus korona ini, mereka serba salah mereka pulang tak boleh, tapi mereka tetap di rantauan juga hidupnya susah. Saya baru tenang dari debat kusir dan saling menyalahkan menggunakan bahan sara, eh malah baru aja tenang ada lagi majlis debat kusir dan saling menyalahkan berbahan virus korona. Saya berfikir keras akan hal tersebut apakah ya harus seperti itu, marilah saling menghargai kemanusian kita, apabila ada perantauan yang pulang orang yang berdomisili janganlah menyalahkan dan mencaci yang pulang dari rantau mereka para perantau juga susah hidupnya dan bingung, bagi yang berdomisili mengarahkan agar perantau yang pulang kampung menseterilkan dirinya dan mengikuti arahan dari pemerintah dan petugas kesehatan setempat. Sebaliknya bagi para perantau, janganlah keras kepala dan egois disituasi seperti ini semua orang dituntut waspada, kalau pulang kampung cek diri ke pelayanan kesehatan setempat, kalu diarahkan oleh orang lain untuk mengecekan diri janganlah merasa dihina itu semua demi kebaikan bersama. Okeh sekarang waktunya bersatu.
Orang yang meninggal karena virus korona mereka juga manusia merekapun tak mau akan hal tersebut, prosesi perawatan jenasahpun harus berbeda karena untuk kewaspadaan dan kemaslahatan, bukan berarti karena hal tersebut membuat kita menghilangkan hak mereka di kebumikan. Ada sebuah cerita orang yang meninggal karena viris koroan, dia tak diterima dimanapun hanya sekedar di kebumikan, sampai-sampai ambulan yang lewat membawa jenazah tersebut dilempari agar tak masuk ke desa mereka, kemudian jenazah tersebut di makamkan bukan didesanya setelah dimakamkan warga setempat menggali makamnya mereka tak mau jenazah tersebut di makamkan di desanya, penolakan tidak hanya terjadi di satu dua desa tapi hampir lima desa, dan pada ahirnya jenazah tersebut di makamkan di desa bupati kabupaten jenazah tersebut. Melihat cerita tersebut sangat miris, terjadi penurunan nilai kemanusiaan yang sangat luar biasa, yang menurut saya sangat mengerikan. Bayangkan apabila hal tersebut terjadi pada diri kita, bayangkan apabial kita sebagai anaknya, istrinya, keluarganya. Haaaaaaahhhhhh. Sesak sekali nafas ini melihat kejadian-kejadian yang sangat kehewanan.
Semoga kita semua diberi kesehatan, selalu menjunjung nilai-nilai kemanusian.
VIRUS KORONA PENGINGAT UNTUK KITA, UJIAN KENAIKAN KELAS KITA DI DUNIA INI. SEMOGA KITA SEMUA MENANGKAP PERINGATAN TERSEBUT, SEMOGA KITA LULUS UJIAN TERSEBUT.
SALAM KEBERUNTUNGAN……….
Comments
Post a Comment